Tandan Pisang 2,5 Meter, Buahnya Ratusan!
Tandan Pisang 2,5 Meter, Buahnya Ratusan!
Pohon pisang milik Eka, warga Desa Maranang, Kecamatan Mattirobulu, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, ini layaknya pohon pisang pada umumnya. Namun, ada yang menarik dari tanaman bertunas tersebut.
Buahnya manis dan menyerupai rasa pisang susu. Jumlahnya mencapai ratusan, dengan panjang tandan mencapai 2,5 meter, hingga menyentuh tanah. Bahkan, jantung pisang terus mengeluarkan bakal-bakal buah baru.

Pemiliknya terpaksa menopang batangnya dengan bambu karena tidak mampu menahan tandan pisang yang terus berbuah. Ditemui Kompas.com, Minggu (17/4/2011) sore, Eka mengaku, pohon itu belum berusia setahun.
Ia mendapatkan bibit pisang itu dari kerabatnya di Kampung Lise, Kecamatan Mattiro Sompe. “Saya baru menyadari pertumbuhan buahnya dalam beberapa bulan terakhir yang tidak biasa dibanding tanaman pisang saya yang lain,” katanya.
Keunikan buah pisang bertandan panjang dengan buah mencapai ratusan itu banyak menarik perhatian warga sekitar, bahkan mengundang keingintahuan warga dari daerah lain.
Eka mengatakan, selama jantung pohon pisang tidak terlepas, selama itu pula tandan pisang akan terus bertambah panjang dan buahnya akan terus bertambah. “Sudah banyak warga yang datang dan minta anak tunasnya,” katanya.
Ruslan, salah seorang warga setempat, mengatakan, setelah mencicipi buahnya, pisang unik tersebut tidak hanya enak, tetapi juga terasa manis seperti pisang susu. Sementara Conggo, warga yang jauh-jauh datang dari luar kecamatan tersebut, mengaku ingin melihat langsung pisang unik itu.
“Sudah banyak teman yang cerita soal pisang unik tersebut. Awalnya saya tidak percaya. Karena penasaran, saya datang untuk melihat langsung. Ternyata tandannya memang sangat panjang,” ujarnya.
Meski daunnya tersisa tiga helai saja, pohon pisang itu juga masih terus mengeluarkan tunas-tunas bakal pohon yang baru. “Kami terpaksa menopang batang pisangnya karena hampir roboh lantaran tidak bisa lagi menahan beratnya buah pisang yang bahkan sudah mencapai tanah,” ujar Eka. [kompas/ris]