Cari Blog Ini

Sabtu, 24 September 2011

Yahudi Desak Organisasi Bantuan Gaza Masuk "Daftar Teroris"

BRUSSELS (Berita SuaraMedia) – Hujatan internasional mengalir menentang pembantaian Israel terhadap armada kemanusiaan Freedom Flotilla ditambah seruan untuk mencabut blokade yang mencekik warga Palestina tak bersalah di Gaza. Tapi, Kongres Yahudi Eropa (EJC), lembaga komunitas Yahudi di Eropa mencoba menempatkan diri sebagai "korban" dan mengirimkan permintaan resmi agar aset-aset Yayasan Hak Asasi Manusia dan Kebebasan serta Bantuan Kemanusiaan (IHH) disita dan agar organisasi tersebut dimasukkan dalam daftar "organisasi teroris" yang terlarang.
Dr. Moshe Kantor, dalam sebuah tuduhan Islamofobia, menuding IHH sebagai organisasi yang dikenal memiliki keterkaitan dengan "kelompok-kelompok dan aktivitas teroris" dan "beroperasi di bawah samaran organisasi kemanusiaan".
Kongres Yahudi tersebut mengklaim bahwa IHH memiliki hubungan dengan Hamas, pecahan Ikhwanul Muslimin yang dimasukkan dalam "daftar organisasi teror" Uni Eropa.
Tuduhan tidak masuk akal yang diarahkan kepada IHH tersebut adalah kampanye propaganda karena memang terbukti kapal yang diserang Israel adalah kapal Turki yang mengangkut pria, wanita, dan anak-anak.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa pasukan Israel mengarahkan moncong senjata ke arah salah satu bayi kru kapal. Kejadian semacam itu menimbulkan tanda tanya, siapa sebenarnya yang teroris.

Kapal Mavi Marmara yang mengirimkan 10.000 ton bantuan kemanusiaan dan materi bangunan untuk warga Gaza yang terpenjara dan menderita karena blokade yang diterapkan Israel yang justru menuduh warga Gaza sebagai "teroris."
Menurut versi EJC, pemerintah Turki "menggerebek" kantor organisasi tersebut di Istanbul, di dalamnya mereka "menemukan senjata".
Padahal, IHH dikenal sebagai organisasi bantuan kemanusiaan dan banyak aktivis perdamaian dari seluruh penjuru dunia bergabung dengan mereka.
Pasca serbuan mematikan armada kapal kemanusiaan Gaza, EJC tanggal 3 Juni lalu mengeluarkan pernyataan yang tidak ada hubungannya dengan serangan tersebut. Tujuannya untuk mengalihkan isu dari pembantaian yang dilakukan Israel di perairan internasional tersebut.
EJC justru menekankan hasil penemuan survei yang dipublikasikan Institute for Management Development di Swiss, yang menyebut Isarel memiliki ekonomi paling tahan banting di dunia dan memiliki pengeluaran terbesar dalam penelitian sains serta inovasi.
Penemuan tersebut mungkin dapat membantu menjelaskan lemahnya tanggapan kolektif dari 27 negara anggota Uni Eropa terhadap serangan Israel.
Meski reaksi keras terhadap penjajahan Israel muncul dari orang-orang di seluruh dunia, Uni Eropa tampak begitu "terkesan" dengan performa ekonomi Israel sehingga menyertakannya dalam berbagai aktivitas Uni Eropa dalam beberapa tahun terakhir.
Meski ada beberapa pemerintahan Uni Eropa yang menunjukkan rasa tidak senang terhadap serangan itu dengan memanggil duta besar Israel dan melakukan pertemuan darurat, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Catherine Ashton, justru menyebut serangan itu "tragedi" – istilah yang umumnya dipakai untuk sebagai kata ganti kecelakaan.
Awalnya, Ashton meminta Israel melakukan penyelidikan sendiri. Tapi, ketika ia merilis pernyataan lanjutan dalam kunjungan ke Rusia, ia tidak memberikan penjelasan apakah penyelidikan tersebut harus dilakukan Israel atau tim bentukan PBB.
EJC melakukan kampanye intens untuk meyakinkan Parlemen Eropa agar tidak menyetujui mosi yang kritis terhadap tindakan Israel di tanah Palestina terjajah.
Klaim EJC yang meminta Uni Eropa memasukkan nama IHH dalam "daftar organisasi teroris" sebelumnya juga dilontarkan pemerintah Israel, tapi, hal itu ditentang oleh para aktivis internasional dan pendukung gerakan solidaritas Palestina, yang mengatakan tuduhan Israel tersebut tidak berdasar.
Penelitian sains menjadi wilayah kerja sama terbesar Israel dan Uni Eropa. Uni Eropa menjadi pemasok besar untuk perusahaan-perusahaan dan institut penelitian Israel dalam satu dekade terakhir. Perusahaan-perusahaan seperti Motorola Israel, Elbit, dan Isael Aerospace Industries ambil bagian dalam aktivitas program tersebut.
Meski perusahaan-perusahaan tersebut telah merakit senjata dan komponen yang dipergunakan dalam menyerang penduduk sipil Palestina, perang Israel terhadap Libanon pada 2006, dan perang yang dipimpin AS di Afghanistan, Janez Potocnik, komisaris penelitian Uni Eropa tahun 2004-2009, tidak menyesalkan keterlibatan perusahaan-perusahaan tersebut dalam program yang didanai para pembayar pajak Eropa. "Yang coba kami sediakan adalah hal yang menguntungkan bagi rekan-rekan Eropa," katanya kepada kantor berita IPS. "Kita membicarakan tentang penelitian, bukan hal lain." (dn/iw/ip)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar