Cari Blog Ini

Senin, 25 Juli 2011

APAKAH WANITA ITU JAHAT DALAM SEGALANYA?

PERTANYAAN
 
Dalam buku Nahjul Balaghah karangan Amirul-Mukminin Ali  bin
Abi Thalib r.a terdapat suatu keterangan:
 
     "Wanita itu jahat dalam segalanya. Dan yang paling
     jahat dari dirinya ialah kita tidak dapat terlepas
     dari padanya."
 
Apakah  arti yang sebenarnya (maksud) dari kalimat tersebut?
Apakah  hal  itu  sesuai  dengan  pandaigan  Islam  terhadap
wanita? Saya mohon penjelasannya. Terima kasih.
 
JAWAB
 
Ada dua hal yang nyata kebenarannya, tetapi harus dijelaskan
iebih dahulu, yaitu:
 
Pertama,   yang   menjadi   pegangan   atau    dasar    dari
masalah-masalah agama ialah firman Allah swt. dan sabda Nabi
saw, selain dari dua ini, setiap  orang  kata-katanya  boleh
diambil  dan  ditinggalkan.  Maka,  Al-Qur'an dan As-Sunnah,
kedua-duanya adalah sumber yang kuat dan benar.
 
Kedua, sebagaimana telah  diketahui  oleh  para  analis  dan
cendekiawan  Muslim,  bahwa semua tulisan yang ada pada buku
tersebut  di  atas  (Nahjul  Balaghah),  baik  yang   berupa
dalil-dalil   atau  alasan-alasan  yang  dikemukakan,  tidak
semuanya tepat. Diantara hal-hal  yang  ada  pada  buku  itu
ialah  tidak menggambarkan masa maupun pikiran serta cara di
zaman Ali r.a.
 
Oleh sebab itu, tidak dapat dijadikan dalil dan tidak  dapat
dianggap  benar, karena semua kata-kata dalam buku itu tidak
ditulis oleh Al-Imam Ali r.a.
 
Didalam penetapan ilmu agama, setiap ucapan  atau  kata-kata
dari  seseorang,  tidak  dapat  dibenarkan, kecuali disertai
dalil  yang  shahih  dan  bersambung,   yang   bersih   dari
kekurangan atau aib dan kelemahan kalimatnya.
 
Maka,  kata-kata  itu tidak dapat disebut sebagai ucapan Ali
r.a. karena tidak bersambung dan tidak mempunyai sanad  yang
shahih.  Sekalipun  kata-kata  tersebut mempunyai sanad yang
shahih, bersambung, riwayatnya adil dan  benar,  maka  wajib
ditolak,  karena hal itu bertentangan dengan dalil-dalil dan
hukum  Islam.  Alasan  ini  terpakai  di  dalam  segala  hal
(kata-kata) atau fatwa, walaupun sanadnya seterang matahari.
 
Mustahil  bagi  Al-Imam  Ali r.a. mengatakan hal itu, dimana
beliau sering  membaca  ayat-ayat  Al-Qur'an,  di  antaranya
adalah:
 
     "Wahai sekalian manusia! Bertakwalah kepada
     Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang,
     yang kemudian darinya Allah lantas menciptakan
     istrinya, dari keduanya Allah mengembangbiakkan
     laki-laki dan wanita yang banyak ..." (Q.s.
     An-Nisa': 1)
     
     "Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya
     (dengan firman-Nya): 'Bahwa sesungguhnya Aku tiada
     mensia-siakan amal orang-orang yang beramal di
     antara kamu, baik laki-laki maupun wanita,
     (karena) sebagian darimu adalah keturunan dari
     sebagian yang lain ..." (Q.s. Ali Imran: 195).
     
     "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Allah ialah
     Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu
     sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
     kepadanya, dan Allah menjadikannya diantara kamu
     rasa kasih dan sayang ..." (Q.s. Ar-Ruum: 21).
 
Masih  banyak  lagi  di antara ayat-ayat suci Al-Qur'an yang
mengangkat dan memuji derajat kaum  wanita,  disamping  kaum
laki-laki. Sebagaimana Nabi saw. bersabda:
 
     "Termasuk tiga sumber kebahagiaan bagi laki-laki
     ialah wanita salehat, kediaman yang baik dan
     kendaraan yang baik pula." (H.r. Ahmad dengan
     sanad yang shahih).
     
     "Di dunia ini mengandung kenikmatan, dan
     sebaik-baik kenikmatan itu adalah wanita yang
     salehat." (H.r. Imam Muslim, Nasa'i dan Ibnu
     Majah).
     
     "Barangsiapa yang dikaruniai oleh Allah wanita
     yang salehat, maka dia telah dibantu dalam
     sebagian agamanya; maka bertakwalah pula kepada
     Allah dalam sisanya yang sebagian."
 
Banyak  lagi  hadis-hadis dari Nabi saw. yang memuji wanita;
maka mustahil bahwa Ali r.a. berkata sebagaimana di atas.
 
Sifat wanita itu berbeda dengan sifat  laki-laki  dari  segi
fitrah;  kedua-duanya  dapat  menerima  kebaikan, kejahatan,
hidayat. kesesatan dan sebagainya.
 
Firman Allah swt. dalam Al-Qur'an,
 
     "Jiwa dan penyempurnaannya (ciptaannya); maka
     Allah mengilhamkan pada jiwa itu (jalan) kefasikan
     dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang
     yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya
     merugilah orang yang mengotorinya." (Q.s.
     Asy-Syams: 7-10)
 
Mengenai fitnah yang ada pada wanita disamping  fitnah  yang
ada   pada   harta  dan  anak-anak,  dimana  hal  itu  telah
diterangkan di dalam Al-Qur'an dan dianjurkan supaya  mereka
waspada dan menjaga diri dari fitnah tersebut.
 
Dalam  sabda Rasulullah saxv. diterangkan mengenai fitnahnya
kaum wanita, yaitu sebagai berikut,
 
     "Setelah aku tiada, tidak ada fitnah yang paling
     besar gangguannya bagi laki-laki daripada
     fitnahnya wanita." (H.r. Bukhari).
 
Arti dari hadis di atas menunjukkan bahwa wanita  itu  bukan
jahat,  tetapi  mempunyai  pengaruh yang besar bagi manusia,
yang dikhawatirkan lupa pada kewajibannya, lupa kepada Allah
dan terhadap agama.
 
Selain  masalah  wanita, Al-Qur'an juga mengingatkan manusia
mengenai fitnah yang disebabkan dari harta dan anak-anak.
 
Allah swt. berfirman dalam Al-Qur'an:
 
     "Sesungguhnya harta-harta dan anak-anakmu adalah
     fitnah (cobaan bagimu); dan pada sisi Allah-lah
     pahala yang besar." (Q.s. At-Taghaabun: 15)
     
     "Hai orang-orang yang beriman!Janganlah
     harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikanmu
     mengingat kepada Allah. Barangsiapa yang berbuat
     demikian' maka mereka termasuk orang-orang yang
     merugi." (Q.s. Al-Munaafiquun: 9).
 
Selain dari itu (wanita,  anak-anak  dan  harta  yang  dapat
mendatangkan fitnah), harta juga sebagai sesuatu yang baik.
 
Firman Allah swt.:
 
     "Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari
     jenismu sendiri dan menjadikan bagimu dan
     istri-istrimu itu, anak-anak dan cucu; dan
     memberimu rezeki dari harta yang baik-baik ..."
     (Q.s. An-Nahl: 72)
 
Oleh  karena  itu,  dianjurkannya  untuk waspada dari fitnah
kaum wanita, fitnah  harta  dan  anak-anak,  hal  itu  bukan
berarti  kesemuanya  bersifat  jahat,  tetapi  demi mencegah
timbulnya fitnah yang dapat  melalaikan  kewajiban-kewajiban
yang telah diperintahkan oleh Allah swt.
 
Allah   swt.  tidak  mungkin  menciptakan  suatu  kejahatan,
kemudian dijadikannya sebagai suatu kebutuhan dan  keharusan
bagi setiap makhluk-Nya.
 
Makna  yang  tersirat  dari suatu kejahatan itu adalah suatu
bagian yang amat sensitif,  realitanya  menjadi  lazim  bagi
kebaikan secara mutlak. Segala bentuk kebaikan dan kejahatan
itu berada di tangan (kekuasaan) Allah swt.
 
Oleh  sebab  itu,  Allah  memberikan  bimbingan  bagi   kaum
laki-laki  untuk menjaga dirinya dari bahaya dan fitnah yang
dapat  disebabkan  dan  mudah   dipengaruhi   oleh   hal-hal
tersebut.
 
Diwajibkanjuga   bagi   kaum   wanita,   agar   waspada  dan
berhati-hati dalam menghadapi tipu muslihat yang  diupayakan
oleh  musuh-musuh Islam untuk menjadikan kaum wanita sebagai
sarana perusak budi pekerti, akhlak yang luhur dan  bernilai
suci.
 
Wajib  bagi  para  wanita  Muslimat  kembali  pada kodratnya
sebagai wanita yang saleh, wanita hakiki, istri salehat, dan
sebagai ibu teladan bagi rumah tangga, agama dan negara.
 
---------------------------------------------------
Fatawa Qardhawi: Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah
Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Cetakan Kedua, 1996
Penerbit Risalah Gusti
Jln. Ikan Mungging XIII/1
Telp./Fax. (031) 339440
Surabaya 60177

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar