Niat menghapus tiga tato yang ada di tubuhnya, justru membuat Shinta Dewi (28) warga Purwosari, Semarang yang bekerja di sebuah toko emas di Purwokerto harus menemui ajal. Korban mengalami kejang - kejang sesudah mendapatkan suntikan bius hingga 10 kali dan akhirnya meninggal dunia.


Kejadian bermula saat korban berniat menghapus tiga tato yang ada di punggung kiri, pinggang sebelah kanan dan lengan kiri. Korban berangkat ke tempat penghapusan tato yang ada di Desa Kejawar, Kecamatan Banyumas dengan ditemani Mujiati (42), warga Karang Klesem.

"Kami berangkat hari Rabu (18/4) ke tempat penghapusan tato. Menurut keterangan penghapus tato, untuk satu tato minimal harus disuntik hingga 5 kali, supaya tidak sakit," kata Mujiati yang merupakan tetangga kos korban.

Saat tato pertama dihapus korban masih dalam kondisi baik - baik saja. Namun, ketika tato kedua selesai dihapus, korban mengeluh pusing dan mual. Kemudian keluar cairan dari mulut dan hidung korban dan korban langsung tidak sadarkan diri.

Melihat kondisi korban, Eko Restianto yang sedang menghapus tato korban langsung menghentikan pekerjannya dan kemudian membawa korban ke rumah sakit. Sayangnya nyawa korban sudah tidak tertolong lagi.

Humas Polres Banyumas, AKP Joko Witarso, Kamis (19/4) mengatakan kasus tersebut sudah ditangani oleh polisi. Saat ini tersangka masih dimintai keterangan di Polres Banyumas. Polisi juga menyita barang bukti berupa suntikan dan lazer yang digunakan pelaku untuk menghapus tato korban.

Sang Ibu Tak Tahu Putrinya Bertato

Isak tangis Ny Turiyem tak terbendung. Sesekali kerudung hitam yang dikenakan dipakai mengusap air matanya. Suasana duka semakin terasa saat dirinya turun dari mobil ambulans yang membawa jenazah putrinya dari Purwokerto.

Di sudut gang sempit di kawasan RT 01 RW 02, Perbalan Purwosari Semarang Utara, kerumunan tetangga sudah menunggu. Raut wajahnya semakin memerah disusul teriakan histeris isak tangis saat sejumlah tetangga menyambutnya. Di tengah iringan keluarga yang mengangkat jenazah korban tiba dan langsung dibawa ke Masjid Baitul-muslim, sekitar 50 meter dari rumahnya.

Sekitar 10 menit jenazah korban disinggahkan di masjid untuk dishalatkan. Gema doa dan sholawat dilantunkan keluarga, kerabat, serta puluhan tetangganya. Kembali, isak tangis mengiringi perjalanan terakhir korban saat keranda jenazah diangkut mobil ambulans yang membawanya, sebelum akhirnya dimakamkan di pemakaman umum, Bergota, Randusari.

Kabar kematian anaknya begitu tiba - tiba. Tidak disangka, Shinta Dewi (28), anak ketiga dari lima bersaudara itu meninggal secara tragis. Baik Turiyem dan suaminya Sudarmo (58), yang awalnya mendapat kabar anaknya sakit di Purwokerto. Mereka tidak mengetahui jika anaknya tewas karena sebuah tato. Mereka tidak menduga anak perempuannya itu memiliki tato di tubuhnya, yang menjadi penyebab ajalnya.

Shinta Dewi diketahui meninggal saat berusaha menghapus tato dipunggungnya di tempat praktek jasa hapus tato, di Desa Kejawar, Kecamatan Banyumas. "Kami tidak tahu dia memiliki tato. Kami tidak menyangka kalau dia punya tato," kata Turiyem singkat.

Bagi keluarga, Shinta Dewi dikenal sebagai orang yang baik dan tidak memiliki masalah. Keluarga hanya mengetahui, dia bekerja sebagai pegawai di sebuah toko emas di Purwokerto. Sejak lima tahun silam, Sinta panggilan akrabnya tinggal di sebuah rumah di kawasan Purwokerto Selatan.

Kominikasi terakhir, diterima korban beberapa jam sebelum korban menghembuskan nafas terakhirnya. Terakhir bicara, dia menyampaikan kabar dan menanyakan apakah ibunya sudah makan. Bagi Dwi, suami korban yang turut menjemput jenazah istrinya dari Purwokerto sendiri mengaku kaget saat mendapat kabar kematian istrinya itu.

Dwi yang selama menikah dan tinggal terpisah dengan istrinya karena tinggal di Semarang, hanya mengetahui istrinya bekerja pada toko emas di Purwokerto.